A.
Atmosfer
Atmosfer
berasal dari kata “atmo” yang berarti udara dan “sfera” yang
berarti lapisan. Jadi, atmosfer adalah lapisan udara atau gas berlapis-lapis
yang menyelubungi bumi, sedangkan yang dimaksud dengan udara adalah semua gas
yang tersusun dari berbagai zat yang tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak
dapat dilihat. Atmosfer adalah lapisan kulit luar bumi dibawah litosfer (Sardiman, dkk. 2004: 20).
Atmosfer bumi tersusun atas 20 macam gas yang berbeda.
Dua gas yang utama adalah oksigen dan nitrogen. Atmosfer juga mengandung
partikel-partikel air dan debu, karena atmosfer bumi adalah hamparan udara yang
sangat luas, maka tentu saja memiliki berat. Jika atmosfer tersebut dapat
dimanfaatkan dengan disatukan menjadi sebuah skala, maka beratnya kira-kira
5.700.000.000.000.000 (5.700 triliyun) ton.
1. Udara tersusun dari berbagai zat
pembentuk, sebagai berikut:
a. Nitrogen berjumlah 78%,
b. Oksigen berjumlah 21%,
c. Argon berjumlah 0,9%,
d. Karbondioksida berjumlah 0,03%, dan
e. Karbon, neon, xenon, hydrogen, helium,
dan ozon berjumlah 0,07%.
2. Sifat-sifat fisik atmosfer, atmosfer yang
menyelubungi bumi mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
a. Transparan terhadap beberapa bentuk
radiasi.
b. Elastis dan dinamis sehinga dapat mengembang
dan mengerut.
c. Tidak bewarna, tidak berbau dan tidak
dapat dirasakan.
d. Memilki berat sehingga dapat menimbulkan
tekanan.
e. Tediri atas beberapa gas.
f. Terdiri atas beberapa lapisan.
3. Lapisan atmosfer
Atmosfer
terbentuk dari beberapa lapisan udara antara lain:
a. Lapisan troposfer (9-12 km)
Lapisan
troposfer adalah lapisan udara yang paling dekat dengan permukaaan bumi dengan
ketebalan yang berlainan, yaitu sekitar 9 km di daerah kutub dan 12 km di
daerah ekuator (Katino, 2006: 31).
Sifat-sifat khas lapisan ini adalah setiap kita naik 100 meter suhu udara
akan turun 0,5˚-0,64˚C. Lapisan udara yang tebal pada troposfer dapat
melindungi bumi dari sinar matahari sehingga suhu bumi tidak terlalu tinggi
pada siang hari dan tidak terlalu rendah pada malam hari. Pada
lapisan inilah terjadi proses gerakan udara (angin), terbentuknya awan, dan
terjadinya hujan yang merupakan cirri unsure cuaca. Cuaca sangat berpengaruh
terhadap kehidupan di muka bumi.
b. Lapisan Stratosfer (12-50 km)
Lapisan
stratosfer adalah lapisan udara yang tingginya sekitar 18-60 km di atas
permukaan bumi (Katino,2006: 31).
Pada
lapisan ini terdapat konsentrasi ozon pada ketinggian sekitar 22 km yang
berfungsi melindungi lapisan troposfer dari radiasi sinar ultraviolet matahari.
Pada lapisan stratosfer terdapat proses persenyawaan dan pengeluaran panas
sehingga lapisan stratosfer memiliki lapisan mesosfer. Batas antara traposfer
dengan lapisan stratosfer disebut tropopause yang bersuhu mnimum, sedangkan
batas antara stratosfer dengan mesosfer disebut stratopause yang berimpit
dengan bagaian atas ozon bersuhu maksimum.
c. Lapisan Mesosfer (50-80 km
Lapisan
mesosfer adalah lapisan yang berada di atas lapisan stratosfer (Katino, 2006: 31).
Lapisan ini berfungsi memantulkan gelombang
radio dan televise (VHF dan UHF). Lapisan ini berfungsi ntuk melindungi bumi
dari hujan meteor. Semakin ke atas, suhu udara di lapisan mesosfer semakin
dingin. Pada lapisan mesopause (lapisan peralihan antara mesosfer dan
termosfer) suhu dapat mencapai 140˚C di bawah nol (-140˚C).
d. Lapisan Termosfer (50-80 km)
Lapisan
termosfer adalah
lapisan atmosfer yang paling
panas dengan lapisan atmosfer yang lain (Katino, 2006: 31).
Lapisan ini terletak di ketinggian antara 80
km sampai batas antara atmosfer dengan angkasa luar. Pada lapisan termosfer ini
suhu udara dapat mencapai 1.500˚C. Pada lapisan ini terdapat lapisan ionosfer
(ketinggian 80-450 km). Partikel-partikel ion yang dihasilkan pada lapisan ini
berfungsi untuk memantulkan gelombang radio, baik gelombang panjang maupun
gelombang pendek.
e. Lapisan Eksosfer
Dinamakan
eksosfer karena merupakan lapisan terluar dari atmosfer, di mana pengaruh gaya
berat sangat kecil sehingga benturan-benturan udara jarang terjadi. Ketinggian
lapisan ini di antara 500 km sampai dengan 1.000 km. Butiran-butiran gas pada
lapisan ini berangsur-angsur meloloskan diri ke angkasa luar. Lapisan ini juga
dinamakan dissipasisfer.
4. Manfaat Lapisan Atmosfer (udara)
a. Untuk bernapas makhluk hidup di bumi.
b. Pelindung makhluk hidup dari radiasi
matahari.
c. Pelindung bumi dari kemungkinan adanya
benturan-benturan benda-benda angkasa karena daya tarik bumi.
d. Pemantul gelombang bunyi untuk aktivitas
telekomunikasi dan radio.
B.
Hidrosfer
Hidrogen
merupakan salah satu unsur geosfer yang terdiri atas air dalam berbagai wujud.
Air bisa berwujud padat, cair, maupun gas. Dalam kehidupan, air mempunyai
fungsi yang sangat penting. Air dibutuhkan untuk mandi, memasak, menyirami, dan
mencuci. Hidrosfer berasal dari kata
hidro (air) daan sphere (lapisan). Hidrosfer berarti lapisan air. Lapisan air
permukaan bumi meliputi lautan, laut, sungai, salju/gletset, air tanah, dan uap
air yang terdapat dalam atmosfer. Ilmu yang mengkaji perairan disebut
hidrologi. Hidrologi adalah cabang geografi fisik yang mempelajari sumber air
dengan penekanan pada terhadapnya, sifat-sifatnya, kualitas dan kuantitasnya
menurut ruang dan waktu (Sardiman, dkk. 2004: 31).
Hidrosfer mencakup air tawar di daratan dan air garam di
lautan. Sebagian besar hidrosfer adalah lautan (97,2%) dan sisanya (2,8%)
adalah air tawar. Air merembes ke dalam bumi melalui pori-pori lapisan-lapisan
batuan dan tanah dengan proses infiltrasi. Faktor yang mempengaruhi infiltrasi
adalah porositas dan permeabilitas lapisan batuan.
1. Siklus hidrologi
Jumlah air dibumi relative tetap. Air senantiasa
bergerak dalam suatu peredaran yang disebut siklus air atau siklus hidrologi.
Siklus hidrologi, yaitu proses perubahan bentuk air yang terjadi di alam secara
terus-menerus yang disebabkan oleh adanya pemanasan sinar matahari.
Siklus hidrologi dipengaruhi oleh pemanasan sinar
matahari. Adanya terik matahari pada siang hari menyebabkan air di permukaan
bumi mengalami evaporasi (penguapan) maupun transpirasi menjadi uap air. Uap
air akan naik hingga mengalami pengembunan (kondensasi) membentuk awan. Akibat
pendinginan terus-menerus, butir-butir air di awan bertambah besar hingga
akhirnya jatuh menjadi hujan (presipitasi). Selanjutnya, air hujan ini akan
meresap ke dalam tanah (infiltrasi dan perkolasi) atau mengalir menjadi air
permukaan (run off), baik aliran air bawah tanah maupun air permukaan keduannya
menuju ke tubuh air di permukaan bumi (laut, danau, dan waduk).
Berikut
ini istilah-istilah yang terjadi pada siklus hidrologi.
a.
Evaporasi,
yaitu penguapan air laut menjadi uap air.
b.
Kondensasi,
yaitu perubahan wujud uap air menjadi air.
c.
Aveksi,
yaitu gerakan udara secara horizontal yang membawa titik air atau awan dari suatu
tempat ke tempat lain.
d.
Presipitasi,
yaitu turunnya titik-titik air dari udara ke permukaan bumi.
e.
Run
off, yaitu aliran air di permukaan tanah.
f.
Transpirasi,
yaitu proses pelepasan uap air dari tumbuh-tumbuhan.
g.
Infiltrasi,
yaitu perembasan air ke dalam tanah melalui tanah.
h.
Sublimasi,
yaitu berubahnya uap air menjadi kristal-kristal
es.
2. Jenis-jenis siklus hidrologi
Ada
tiga jenis siklus hidrologi, yaitu siklus pendek, siklus sedang, dan siklus
panjang.
a.
Siklus
pendek, yaitu terjadinya penguapan di permukaan
laut, kemudian
terbentuk
awan dan akhirnya hujan di kawasn laut.
b.
Siklus
sedang, yaitu penguapan terjadi di permukaan laut, kemudian terbentuk awan-awan
terbawa angin di daratan dan mengalir lagi melalui sungai di permukaan.
c.
Siklus
panjang, yaitu penguapan terjadi dipermukaan laut, kemudian terbentuk awan-awan
terbawa angin, terjadi hujan di daratan dan mengalir lagi ke laut melalui
sungai di permukaan dan aliran bawah tanah.
3. Manfaat air
a.
Pengairan
sawah dengan membuat saluran air di waduk.
b.
Keperluan
air minum dan keperluan sehari-hari.
c.
Usaha
perikanan yang dilakukan pada kolam, sungai, empang, waduk, rawa dan laut.
d.
Sarana
transportasi dan sarana olah raga.
e.
Pembangkit
Listrik Tenaga Air (PLTA).sebagai objek wisata.
C.
LITOSFER
Litosfer
berasal dari bahasa yunani, yaitu dari kata lithos dan spaira. Litos artinya
bebatuan dan spaira artinya lapisan. Jadi litosfer adalah lapisan kerak bumi
yang paling luar terdiri dari batuan. Litosfer
adalah lapisan kulit luar bumi, tersusun oleh berbagai jenis batuan dengan
struktur geografi yang bervariasi, yang mempunyai ketebalan antara 70-125 km
atau lebih (Sardiman, dkk.
2004: 19).
Ketebalan
kerak bumi tidak sama disetiap tempat. Tebal kerak bumi dibawah benua adalah
20-50 km dan tebal kerak bumi dibawah samudera adalah 10-12 km. Lapisan
litosfer terdiri atas 2 lapisan yaitu lapisan sial (silsium aluminium) dan lapisan
sima (silsium magnesium) (Kurniawati12.blogspot.com, 22 April 2012).
Konsep litosfer sebagai lapisan terkuat dari lapisan terluar bumi
dikembangkan oleh Barrel pada tahun 1914, yang menulis serangkaian paper untuk mendukung konsep
itu. konsep yang berdasarkan pada keberadaan anomali gravitasi yang signifikan
di atas kerak benua, yang lalu ia memperkirakan keberadaan lapisan kuat (yang
ia sebut litosfer) di atas lapisan lemah yang dapat mengalir secara konveksi
(yang ia sebut astenosfer). Ide ini lalu dikembangkan oleh Daly pada tahun
1940, dan telah diterima secara luas oleh ahli geologi dan geofisika. Meski teori tentang litosfer dan astenosfer berkembang sebelum teori
lempeng tektonik dikembangkan pada tahun 1960, konsep mengenai keberadaan
lapisan kuat (litosfer) dan lapisan lemah (astenosfer) tetap menjadi bagian
penting dari teori tersebut.
Harry hess, pada tahun 1960, dengan teori tektonik lempengnya
membagi kerak bumi menjadi dua bagian, yaitu kerak benua dan kerak samudera.
Kerak benua terdiri dari batuan yang ringan dan banyak mengandung SiO₂
(silika), sedangkan kerak samudera sebagai dasar samudera terdiri dari
batuan-batuan yang sangat padat berwarna gelap dan miskin akan SiO₂ (Cut Meurah, dkk. 2006: 74).
1.
Batuan
Pembentuk Litosfer
Berdasarkan proses terjadinya,
batuan dapat dibagi menjadi tiga bagian :
a.
Batuan
beku, dikarenakan magma mengalami pendinginan dan zat cair pijar berangsur-angsur
menjadi dingin dan beku:
1) Batuan
beku dalam (plutonik). Hasil pembekuan magma di dalam litosfer, sehingga proses pendinginannya
sangat lambat. Menghasilkan: batuan beku dengan kristal penuh yang
besar-besar (holokristalin).
2) Batuan
beku korok (porfirik). Pembekuannya berlangsung lebih cepat karena magma telah
meresap diantara lapisan-lapisan litosfer.
3) Batuan
beku luar (episif). Magma berubah menjadi larva yang meleleh, dan proses
pembekuan larva di permukaan bumi menjadi cepat. Menghasilkan: lelehan batuan beku
dengan kristal yang halus bahkan ada yang tidak berkristal.
b.
Batuan
Sedimen (Endapan)
Berasal dari batuan beku yang telah tersingkap oleh tenaga
dari luar akan diangkut ke tempat lain dan di tempat baru itulah lalu
diendapkan.
1)
Batuan sedimen klitik, yaitu pasir
2)
Batuan sedimen kimiawi, yaitu
stalaktit dan stalakmit
3)
Batuan sedimen organik, yaitu lapisan humus dari hutan
c.
Batuan
Malihan
Terjadi karena adanya tekanan dan
suhu yang tinggi sehingga menempatkan dan meremukkan batuan yang sudah ada
sebelumnya, baik itu yang berupa batuan beku atau batuan endapan. Dengan adanya berbagai proses
pembentukan jenis-jenis batuan di atas, akan menghasilkan material-material
yang bernilai ekonomis tinggi.
2.
Bentuk muka bumi
a.
Tenaga endogen
Tenaga endogen
adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi dan bersifat membangun permukaan
bumi. Tenaga
endogen terdiri dari tenaga tektonis, vulkanis dan gempa bumi (Bahpari dan Mulia,
2010: 57).
1)
Tenaga
tektonis
Tenaga
tektonis merupakan tenaga dari dalam bumi yang menyebabkan terjadinya perubahan
letak lapisan permukaan bumi secara mendatar atau vertikal, baik yang
mengakibatkan putusnya hubungan batuan atau tidak.
Gerakan tektonis
dibedakan menjadi dua yaitu:
a)
Tektonis
epirogenesa
Tektonis
epirogenesa adalah proses perubahan bentuk daratan yang disebabkan oleh tenaga
yang lambat dari dalam dengan arah vertikal. Epirogenesa ada dua macam, yaitu: epirogenesa positif
adalah gerakan dengan arah ke bawah menyebabkan daratan mengalami penurunan dan
seolah-olah permukaan laut menjadi naik.
Dan epirogenesa negatif adalah gerakan dengan
arah keatas menyebabkan naiknya permukaan daratan dan seolah-olah permukaan
laut menjadi turun.
b)
Tektonis
orogenesa
Tektonis
orogenesa adalah pengerahan lempeng tektonis yang sangat cepat meliputi wilayah
yang sempit. Tektonik orogenesa merupakan proses pembentukan gunung atau
pegunungan akibat adanya tabrakan lempeng benua. Contoh tektonik orogenesa
adalah deretan pegunungan mediterania yang memanjang dari pegunungan atlas di
Afrika sampai wilayah Indonesia.
2)
Tenaga
vulkanis
Vulkanis atau
bersifat gunung api dapat diartikan sebagai suatu gejala atau akibat adanya
aktivitas magma di dalam litosfer hingga keluar sampai ke permukaan bumi. Magma
adalah bahan batuan pijar yang dapat berupa benda cair, padat dan gas yang
berada dalam kerak bumi. Ilmu yang mempelajari gunung berapi adalah
vulkanologi.
Terdapat 2
gerakan magma, yaitu:
a)
Intrusi
magma
Intrusi magma
adalah proses penerobosan magma melalui retakan dan celah pada lapisan batuan
pembentuk litosfer. Proses intrusi terjadi akibat tekanan gas-gas yang
mengandung magma.
b)
Ekstrusi
magma
Ekstrusi magma
adalah proses keluarnya magma ke permukaan bumi.
3)
Gempa
Bumi
Gempa bumi
adalah getaran yang dapat dirasakan di permukaan bumi karena adanya gerakan,
terutama yang berasal dari dalam lapisan-lapisan bumi. Secara umum penyebab
terjadinya gempa bumi dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
a)
Gempa
tektonis
Sebagian besar
gempa bumi disebabkan oleh proses tektonik, yaitu gerakan yang terjadi di dalam
kulit bumi secara tiba-tiba, baik berupa patahan maupun pergerakan.
b)
Gempa
vulkanis
Gempa vulkanis
adalah gempa yang disebabkan oleh adanya letusan atau retakan yang terjadi di
dalam struktur gunung berapi.
c)
Gempa
runtuhan
Gempa runtuhan
disebabkan oleh adanya longsoran massa batuan, intensitas gempa runtuhan sangat
kecil sehingga tidak terasa pada jarak yang jauh. Gempa runtuhan disebut juga
dengan gempa terban.
b.
Tenaga
eksogen ialah tenaga yang mengubah muka bumi atau bentuk relief yang berasal
dari luar bumi. Pada dasarnya tenaga eksogen itu meliputi:
1)
Pelapukan
Yang
dimaksud dengan pelapukan adalah hancurnya batuan dari gumpalan besar menjadi
butiran yang lebih kecil. Pelapukan itu sendiri dibagi menjadi 3 macam yakni:
a)
Pelapukan
mekanik
b)
Pelapukan
kimiawi
c)
Pelapukan
organik
2)
Pengikisan
Pengikisan ini terjadi karena media alam yang bergerak
seperti sungai, angin dan gletser. Pengikisan terjadi setelah media tersebut
melalui batuan atau tempat lain yang menjadi jalur gerak media tersebut.
3)
Pengangkutan sambil
mengikis.
Pengangkatan
material yang sudah lapuk dilaksanakan oleh:
a)
air mengalir
b)
angin
c)
gletser
d)
gravitasi
4)
Pengendapan
Di tempat aliran air, gletser atau angin berhenti atau bertambah
lemah, barang angkutannya ditinggal. Lama-lama barang angkutan dari gletser,
aliran air atau angin tersebut akan membentuk suatu bentukan-bentukan.
3. Manfaat
Litosfer
a. Sumber
daya alam.
b. Sumber
daya bahan baku industri.
D.
Terbentuknya
Benua dan Samudera
1.
Benua
Teori Wegener, seorang ahli geografi Bangsa Jerman,
mengemukakan suatu teori yang disebut Teori Wegener. Menurut teori ini, bumi
pada 250 juta tahun yang lalu hanya terdiri dari satu benua yang sangat besar,
retak kemudian bergeser menjauhi satu sama lain. Akibat pergeseran itu
terbentuklah benua-benua Amerika, Asia, Eropa, Afrika, Australia, dan Antartika
(Santi Dewiki, 2004: 31).
Teori ini didukung oleh fakta yaitu:
a. Sepanjang Timur Amerika Selatan ternyata
mempunyai bentuk dan lekukan yang kira-kira sama dengan lekukan pada Benua
Afrika sebelah Barat.
b. Lekukan bagian Selatan Benua Australia cocok
dengan tonjolan Benua Antartika.
c. Lekukan Semenanjung India dan Pulau Madagaskar
cocok dengan teluk yang terbentuk antara Afrika dengan Antartika.
2.
Samudera
Berdasarkan teori Wegner, pergeseran bagian
bumi bersifat vertikal maupun herizontal yang masih berlangsung terus menerus
hingga saat ini (Santi Dewiki, 2004: 34).
Contoh lain dari peristiwa ini adalah terbentukknya
gunung Himalaya yang menjulang tinggi dan bersamaan dengan itu terbentukknya
Samudera Hindia (Indonesia) yang dalam.
Bersamaan
dengan terbentukknya atmosfer, terjadi pula proses pendinginan udara dan hujan
yang sekaligus akan mempercepat pendinginan bumi. Siklus yang berlangsung
bermiliyar-miliyar tahun akan membentuk kumpulan air dilekukan-lekukan
permukaan bumi. Lautan puba pada mulanya diduga hanya 10% dari lautan yang ada
saat ini.
E. Dampak Gejala Alam
1. Gejala-gejala atmosfer dan pengaruhnya
terhadap kehidupan.
a. Cuaca dan Iklim
Menurut
J. Criegfield, cuaca adalah keadaan keseluruhan dari kondisi atmosfer dalam
waktu yang singkat serta pada wilayah sempit. Jangka waktu mencapai 1-14 hari (Kurniawati12.blogspot.com,
22 April 2012).
Iklim
adalah kumpulan dari kondisi fisik di atmosfer dalam waktu lama dan pada
wilayah luas (Katino, 2006: 38).
Jangka waktu
antara 10-30 tahun. Jadi, perbedaan antara cuaca dan iklim meliputi dua hal
utama, yaitu waktu dan wilayah cakupan. Kesamaan
dari keduannya adalah system pengontrol dan elemen-elemen pembentuknya. Ilmu
yang memepelajari tentng cuaca disebut mteorologi. Ilmu yang mempelajari
tentang iklim disebut klimatologi.
Manfaat Iklim dan Cuaca bagi Kehidupan sebagai
berikut:
1) Dibidang pertanian, iklim dan cuaca
bermanfaat sebagai berikut.
a)
Menentukan
pola tanaman, waktu memupuk, memberantas hama, atau memetik
hasil produksi.
b)
Menentukan
jenis tanaman perkebunan.
c)
Bermanfaat
bagi para petani garam untuk memperoleh hasil maksimal pada waktu musim kemarau
karena mendapat penyinaran matahari cukup lama untuk mengkristalkan air asin
menjadi garam.
2) Dibidang teknologi, yaitu mendorong
kapal layar nelayan tradisional serta menggerakkan kincir angina tau sumber
energi, penerbangan, dan teknologi
industri bangunan.
3) Dibidang pariwisata, dimanfaatkan untuk
kepentingan pariwisata, seperti membangun objek wisata yang sesuai dan menarik
para pengunjung.
b. Angin
Pengertian
angin adalah uadara yang bergerak dari daerah bertekanan tinggi (suhu rendah)
ke daerah bertekanan rendah (suhu tinggi) (Katino, 2006: 33).
Angin terjadi karena temperature udara di
daerah daratan dan di atas permukaan laut berbeda, di daerah lembab dan di daerah pegunungan juga
berbeda. Perbedaan
sifat yang bertolak belakang tersebut berpengaruh pula terhadap perbedaan
tekanan udara. Perbedaan tekanan udara tersebut menyebabkan terjadinya
pergerakkan uadara yang juga disebut dengan nama angin.
Pengaruh
angin terhadap kehidupan adalah dapat kita lihat pada jenis mata pencaharian penuduk
di daerah pantai, yaitu nelayan tradisional. Mereka memanfaatkan angin laut dan
angin darat untuk pergi dan pulang dari menangkap ikan di laut.
c. Hujan
Hujan
adalah proses jatuhnya titik-titik air yang telah mengkristal dari atmosfer ke
permukaan bumi (Katino, 2006: 36).
Titik-titik
tersebut merupakan proses penguapan (evaporasi) akibat penyinaran matahari.
Pengaruh hujan terhadap kehidupan dapat kita lihat pada mata pencarian
penduduk. Penduduk yang tinggal di daerah yang banyak memiliki curah hujan mayoritas
bekerja di bidang pertanian, terutama pertanian lahan basah atau pertanian yang
menghasilkan padi, buah, dan sayuran, serta palawija. Adapun penduduk yang
tinggal di daerah yang sedikit memiliki curah hujan cenderung bekerja di bidang
pertanian lahan kering atau perladangan
yang mengahsilkan padi gogo, palawija, dan jagung.
2. Gejala Hidrosfer
Salah
satu gejala hidrosfer yang sering sekali kita temui, yaitu banjir. Penyebab banjir
adalah hujan yang alirannya airnya melalui hutan-hutan gundul, daerah yang
kurang bervegetasi (tanaman) di permukaan bumi sebagai daya serap air.
Faktor penyebab banjir
sebagai berikut:
a. Penebangan hutan yang berlebihan.
b. Penutupan danau dan kantong-kantong
lainnya.
c. Berubahnya saluran drainase dan sungai.
3. Gejala Litosfer
Lahan adalah bentangan alam yang terdiri dari satu atau lebih jenis tanah
dan mencakup faktor-faktor fisik berupa relief, vegetasi, iklim, dan sumber air
dimana proses produksi berlangsung (Katino, 2006: 12).
Kualitas bentang alam yang berupa
bentang alam dipermukaan bumi bervariasi, mulai dari bentang alam yang sangat
subur sampai dengan lahan yang tandus. Lahan-lahan yang dimungkinkan dikelola
oleh manusia disebut lahan potensial. Suatu lahan bisa mengalami penurunan
potensi karena suatu hal. Penurunan suatu lahan disebut degradasi lahan. Jadi,
yang dimaksud dengan degradasi lahan adalah hilangnya atau berkurangnya kegunaan
atu potensi lahan untuk mendukung kehidupan. Hal ini bisa disebabkan karena
adanya erosi, tergenang, kehilangan unsur hara dan bahan organik, serta
meningkatnya kadar garam.
Menurut Barrow, faktor-faktor utama penyebab degradasi lahan adalah bahaya
alami, perubahan populasi manusia, kondisi sosial, ekonomi, praktik pertanian
yang tidak tepat, serta aktivitas pertambangan dan industri (Katino, 2006: 12).
a.
Bahaya alami
Bahaya alami
seperti longsor dapat menjadikan unsur hara dan tebal tanah berkurang atau
hilang. Kondisi demikian menyebabkan fungsi tanah sebagai media tanam menjadi
hilang atau berkurang. Banjir akibat pengaruh tenaga air dan longsor karena
pengaruh gaya gravitasi tanah menjadi tidak subur dan tipis.
b.
Perubahan populasi manusia
Populasi
manusia di bumi makin lama makin meningkat. Kondisi ini menyebabkan semakin
luasnya lahan yang diperlukan untuk pemukiman, transportasi dan sebagainya. Ini
berarti terjadi alih fungsi lahan hutan sebagai penyeimbang ekosisitem lingkungan
termasuk alam. Perubahan penggunaan lahan tersebut menyebabkan lahan menjadi
kritis, tidak subur dan pada tahapan lain dapat menyebabkan bahaya alami,
seperti banjir, erosi dan longsor.
c.
Kondisi sosial ekonomi
Kondisi sosial
tertentu dapat menyebabkan munculnya kerusakan lingkungan. Kurang pahamnya arti
penting lingkungan akibat rendahnya pendidikan sering menjadi sebab munculnya
penebangan hutan secara ilegal. Begitu pula dengan memburuknya perekonomian
suatu negara menyebabkan pemanfaatan alam disertai perhatian terhadap
kelestarian lingkungan, juga terjadi perubahan kawasan pertanian subur menjadi
lahan terlantar.
d.
Praktik pertanian yang tidak tepat
Persawahan dan
lahan kering merupakan contoh penggunaan lahan yang umum diterapkkan pada
praktik budidaya pertanian di negara-negara Asia Tenggara. Timbulnya kerusakan
fisik dan kehilangan hara tanah sering kali terjadi pada lahan pertanian dengan
pola pengelolaan yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan, akibatnya
terjadi penyempitan lahan-lahan subur.
e.
Aktivitas pertambangan dan industri
Pada
lahan-lahan tertentu terdapat jenis bahan tambang yang terkandung didalamnya. Penambangan
dengan mengggali tanah kadang-kadang menyisikan lubang yang dalam dan lebar.
Dampak negatif dari terjadinya erosi pada lahan antara lain
sebagai berikut:
1)
Penurunan kesuburan tanah
Erosi menyebabkan hilangnya lapisan
tanah atas yang subur dan menyisakan tanah pada lapisan bawah yang tidak subur.
2)
Menurunnya produktivitas
Hilangnya kesuburan lahan akibat
erosi sangat berpengaruh terhadap produktivitas lahan. Hal ini akan terlihat jelas
pada daerah-daerah yang mengalami erosi.
Upaya pemeliharaan dan perlindungan
terhadap tanah secara teratur perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan tanah
(konservasi tanah). Konservasi tanah dapat dilakukan dengan tiga metode yaitu:
a. Metode mekanik,
metode ini adalah upaya untuk mencegah banyaknya tanah yang hilang akibat
erosi, upaya ini dilakukan dilakukan dengan cara terasering, rorak, guludukan,
pembuatan pabit, dan tanggul.
b. Metode vegetatif,
metode dengan menggunakan tanaman untuk mengurangi keruskan lapisan tanah
bagian atas, supaya ini dilakukan dengan cara penghijauan, reboisasi, rotasi
tanaman, dan tanaman penutup tanah.
c. Metode kimiawi,
metode dengan memanfaatkan bahan kimia yang bertujuan untuk memperbaiki
kamantapan struktur tanah.
Kesimpulan
Litosfer
adalah lapisan kerak bumi yang paling luar terdiri dari batuan yang terdiri
dari dua lapisan yaitu lapisan sial dan lapisan sima. Atmosfer adalah lapisan
udara yang menyelubungi bumi. Dan hidrosfer adalah lapisan air yang menyelimuti
permukaan bumi.
Dari teori Wegner menungkapkan bahwa benua dan samudera
bermula dari satu kontinen. Oleh karena lapisan kulit bumi, pada awalnya goyah
dan bumi bergerak mengadakan rotasi, maka lapisan tersebut retak dan secara
perlahan serta terus menerus memisahkan diri menjadi benua-samudera.
Berbagai macam persebaran gejala alam, misalnya gejala
yang terjadi pada dinamika dan kecendrungan perubahan litosfer memiliki dampak
terhadap kehidupan di muka bumi. Sama halnya dengan gejala-gejala yang
ditimbulkan oleh proses yang terjadi pada hidrosfer dan atmosfer.
DAFTAR PUSTAKA
Bahpari
dan Mulia. 2010. Geografi untuk SMA/MA
Kelas X. Jakarta: Erlangga.
Cut Meurah, dkk.
2006. Geografi. Jakarta: Phibeta Aneka
Gama.
Katino. 2006. Geografi
untuk SMA Kelas X. Surakarta: Pabelan Cerdas Nusantara.
Sardiman, dkk.
2004. Pengetahuan Sosial. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Santi Dewiki. 2004. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Sutikna
dan Sudibyakto. 2006. Geografi untuk
SMA/MA Kelas X. Klaten: Cempaka Putih.
Tim
Kreatif Simpati. 2006. IPS Terpadu untuk
Semester 2. Surakarta: Grahadi.
Wahyudin. 2007. Bumi dan Ruang Angkasa.
Jakarta: Armandelta selaras.
Yosaphat, dkk. 20004. Konsep Dasar IPA 1. Jakarta:
Universitas Terbuka.
makasih kak, jadinya aku bisa tahu lebih lanjut tentang geografi =)
BalasHapusMakasih banyak..
BalasHapusThanks kak, berkat mu take home Kesling ku cepat selesaiiu
BalasHapus